Polisi Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Proyek Irigasi di Alor


Kapolres Alor AKBP Patar Silalahi saat menggelar jumpa pers kepada awak media di ruang kerjanya, Senin (4/2/2019) petang.

KALABAHI – Polres Alor menetapkan dua tersangka kasus tindak pidana korupsi pembangunan peningkatan jaringan irigasi di Kabir, Desa Bandar, Kecamatan Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun anggaran 2015. Kedua oknum tersebut berinisial ASS dan YWK.

Demikian disampaikan Kapolres Alor AKBP Patar Silalahi kepada awak media dalam jumpa pers di ruang kerjanya, Senin (4/2/2019) petang.

“Kasus ini berawal dari laporan masyarakat di sekitar lokasi pekerjaan proyek. Dari laporan ini kami melakukan penyelidikan dan mengecek ke TKP. Disana terjadi kerusakan bendungan Balongada pada tahap masa pemeliharaan”, katanya.

Lanjut Patar, dari hasil klarifikasi bersama kontraktor pelaksana pekerjaan, ditemukan pihak kontraktor tidak memenuhi tanggungjawabnya melakukan perbaikan sesuai dengan kontrak. PPK juga tidak melaksanakan kewenangannya sehingga memberikan peluang perbuatan tersebut terjadi sehingga hasilnya tidak bermanfaat untuk masyarakat.

“Kami telah memeriksa 64 orang saksi, 2 orang saksi ahli dari Poltek Negeri Kupang dan BPKP perwakilan NTT. Dari hasil pemeriksaan ahli Poltek Negeri Kupang sendiri kerusakan dikategorikan kegagalan bangunan. Sementara hasil pendalaman dan penyelidikan intens, kami menyita bukti-bukti berupa dokumen kontrak, addedum kontrak, PHO, SP2D, laporan hasil pekerjaan kontraktor pelaksana dan beberapa dokumen terkait lainnya”, ungkapnya.

Dia juga menyampaikan pekerjaan yang dikerjakan kontraktor pelaksana Fa. Waibalun dibawah naungan SKPD Dinas PU bersumber dari dana APBD II DAK/DAU Kabupaten Alor sebesar Rp. 1. 235.700.000. Rinciannya DAK sebesar Rp. 990. 602.479, DAU sebesar Rp. 99.060.248 dan pajak Rp. 146.037.73.

“Total kerugian negara dari hasil audit BPK Perwakilan NTT dengan nomor surat SR 500/PW 24/V/2018 tertanggal 21 Desember 2018 sebesar Rp. 593.091.388,” ungkap Kapolres Alor.

Atas perbuatan tersebut, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 Jo pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun kurungan penjara, dengan denda paling sedikit Rp. 200 juta dan paling banyak Rp. 1 Milyar. Selain itu kedua tersangka juga dijerat dengan pasal 3 ayat 1 Jo pasal 55 ayat 1 dengan ancaman hukuman manimal 1 tahun maksimal 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 50 juta dan paling banyak Rp. 1 milyar.

“Rencana tindak lanjutnya, kita akan segera tahap satukan berkas ini ke Kejaksaan dalm waktu yang sesingkat-singkatnya. Untuk penahanan sendiri kami tidak lakukan dengan pertimbangan yang satu sudah lanjut usia dan sakit-sakitan dan yang satunya lagi kooperatif serta status pekerjaannya jelas,” pungkas  Patar Silalahi. *(Pepenk)

Add comment

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Iklan

Visitor




Your Header Sidebar area is currently empty. Hurry up and add some widgets.