Dari “Mustahil” Menjadi Panen: Kisah G’Farm Meler dan Keberanian Menanam Bawang di Tanah Dingin
Di Kampung Meler, Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, menanam bawang merah di wilayah dingin dan curah hujan tinggi dulu dianggap mustahil. Tidak pernah ada yang melakukannya. Sawah lingko di sini hanya mengenal dua musim padi, yaitu cekeng dari Januari-Mei saat air melimpah dan kélang dari Juni-November saat sebagian lahan mengering.
Anggapan itu mulai berubah sejak Agustus 2025 ketika Pak Song dari Korea Selatan datang ke Meler. Ia tertarik pada keindahan lahan pertanian lingko yang berbentuk seperti jaring laba-laba itu.
I. Pertemuan yang Membuka Jalan.
Pada akhir Agustus 2025, Pak Song bersama pemandu Pak Jodi mencari orang yang memahami sistem pertanian Meler. Warga mengarahkan mereka: “Temui Pak Tomi di Kampung Meler.”
Di rumah Gendang Meler, sambil minum kopi, Pak Song mengajak saya dan lima petani berdialog. Ia mengusulkan menanam bawang merah di lahan kering yang tidak ditanami padi. Awalnya kami ragu. Namun ia menunjukkan dokumentasi keberhasilan budidaya bawang di daerah beriklim serupa.
Pak Song berjanji kembali pada Desember 2025. Ia menepati janji itu. Tanggal 17 Desember 2025, ia datang bersama Pak Bush dari Sumatera, tamatan Institut Pertanian Bandung (IPB). Selama lima hari mereka tinggal di Meler, bertemu lebih dari 20 petani dan tokoh masyarakat, berdiskusi, dan turun langsung ke sawah. Di akhir pertemuan itu terbentuklah kelompok tani G’Farm Meler.
2. Program Tahap 1: Bawang dan Padi Sama-Sama Diperhatikan.
Program 1 dimulai Februari 2026. Selain bantuan bibit, pupuk, dan obat untuk bawang, Pak Song juga memberikan bantuan nutrisi padi bernama Nak Amor.
Bantuan yang diterima kelompok, berupa:
1). 4 unit tangki semprot 16 liter, yaitu 2 unit untuk petani padi dan 2 unit untuk petani bawang.
2). 20 botol Nak Amor untuk 20 petani padi.
3). 10 botol Nak Amor untuk 4 kelompok kecil petani bawang, karena lahan mereka terpisah.
Pertengahan Maret 2026, bantuan tiba di Meler. Bersama Pak Bush, kami mengikuti pendampingan teknis melalui zoom meeting. Pada 20 Maret 2026, kami mulai menanam bawang.
Nutrisi Nak Amor untuk padi juga langsung disemprotkan petani ke lahan masing-masing. Setelah saya wawancara beberapa petani, termasuk pada lahan padi yang saya garap sendiri, hasilnya seragam: tanaman padi berisi baik dan tumbuh dengan baik. Saya dan petani padi lainnya melihat dampak positif penggunaan Nak Amor di sawah Meler.
Untuk bawang, hasilnya juga di luar dugaan. Di lahan yang dulu dianggap tidak mungkin, tanaman tumbuh subur, umbi berkembang baik, dan panen akan tiba dalam hitungan hari.
3. Kerja Sama Lintas Agama dan Bangsa.
Saya dan anggota kelompok G’Farm Meler beragama Katolik. Pak Bush beragama Islam. Agama Pak Song tidak kami ketahui. Perbedaan itu tidak pernah menjadi sekat. Justru semangat kerja baik untuk sesama yang mempersatukan kami.
4. Menatap Program Tahap 2.
Kunjungan Pak Bush ke Meler pada Minggu mendatang menjadi momen penting. Kami akan menunjukkan hasil kerja langsung di lahan, dan merencanakan Program Tahap 2.
Program tahap 2 akan menggarap 0,54 hektar lahan sawah lingko Meler yang selama ini tidak ditanami padi karena kekurangan air. Skalanya lebih besar, dengan harapan Meler menjadi contoh bahwa dataran tinggi pun bisa produktif jika dikelola dengan ilmu dan pendampingan yang tepat.
Kami bersyukur kepada Tuhan, kepada Pak Song atas cinta dan ketekunannya pada Meler, dan kepada Pak Bush atas ilmu serta pendampingan tanpa henti. Semoga kerja sama ini terus berlanjut dan membawa manfaat lebih luas bagi petani Meler.
Catatan ini dibuat oleh: Yohanes Krisostomus Jangkut, Kepsek SDI Nggawang di Desa Pong Lale, Kecamatan Ruteng. Kepsek John ini berasal dari Meler.


















