Ruteng, nttupdate.com. Bunda Literasi Kabupaten Manggarai, Meldiyanti Hagur Marcelina, SP saat membawakan materi literasi saat giat bimbingan teknis literasi informasi yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Manggarai di aula Ranaka Kantor Bupati Manggarai, Selasa, 19 Mei 2026 menjelaskan, kemampuan literasi anak-anak harus memiliki tolok ukur dan terpola.
Apa tolok ukurnya dalam hal literasi? Retoris Ketua PKK Kabupaten Manggarai itu mengkritisinya. Ibu Meldy mengarahkan, mengukur literasi perlu mengoptimalkan beberapa kecerdasan. Apa-apa saja kecerdasan itu, tanyanya. Menurutnya, literasi harus bertolok ukur seperti mengetahui beberapa kecerdasan: psikomotorik, afektif, sosial, kognitif dan spiritual. Beberapa kecerdasan itu harus dilatih dan diasah pada anak-anak di sekolah oleh guru. Guru sebagai pengasih, pangasuh dan pengasah peserta didik. Memang mengembangkan tugas utama dan pertama adalah literasi dimulai dari keluarga inti. Yah, berawal dari rumah. Maka penting sekali menciptakan rasa at home pada anak. Itu tadi, literasi yang pertama ada di dalam keluarga inti, yaitu ayah, ibu dan anak-anak.
Literasi Terpola.
Literasi ini tentu tersusun secara sistematis. Di sini semacam literasi terintegrasi, seperti integrasi kurikulum. Artinya, literasi itu bersistematis karenanya para guru punya peran penting dalam hal literasi terpola di sekolah masing-masing. Peran guru di sekolah harus memolakan kemampuan literasi anak-anak.
Menulis Bertolak pada Minat.
Kalau soal menulis, jelas dia, harus ada klasifikasi yang jelas, yah sesuai minat mereka. Ketika misalnya literasi menulis, tentu ada komunitas yang sama. Personanya harus memiliki minat yang sama. Tidak bisa disamaratakan untuk semua minat anak. Finalnya jika disamakan akan tidak bertahan komunitasnya. Kan menulis juga tergantung kepentingan dan ada hubungan pula dengan minat. Di sekolah, para guru harus melihat minat-minat itu dari peserta didik.
Pinjol dan Judol Termaktub Persona Gagal Informasi.
Ada hal keren lain yang disampaikan Bunda Literasi melalui materinya hari ini. Dalam konteks sosial, jelasnya, pinjaman online dan judi online itu masuk dalam kategori persona gagal informasi (informasi failure). Terkait dengan ekspresi ini, Ibu Meldy mempertanyakan subjek yang melakukan pinjol apalagi judi online.
Ekspresi yang disampaikan Ibu Meldy berdasarkan realita di masyarakat, banyak peristiwa, kejadian yang begitu menyedihkan bahkan terjadinya pengakhiran hayat di kandung badan karena judol. Walau itu sebuah asumsi tetapi yang pasti beliau merasa risih dengan orang yang rindu sekali dengan judol.
“Yah, persona yang pinjol dan judol masuk kategori subjek yang gagal informasi,” kesalnya.


















